Wednesday, October 29, 2014

SUDAHKAH BERTERIMAKASIH PADA IBU???

Malam itu, Anita bertengkar hebat dengan ibunya. Entah setan apa yang merasuki. Dalam amarah yang membara, Anita meninggalkan rumah tanpa membawa bekal apa pun. Setelah jauh berjalan, ia
baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat melewati kedai bakmi, ia mencium aroma masakan. Perutnya berbunyi. Anita sadar, sejak siang tadi, perutnya belum dimasuki
sesuap makanan pun. Ia ingin sekali singgah di kedai itu dan memesan semangkuk bakmi. Tapi, ia tidak punya uang. Ia pun hanya bisa berdiri sambil menahan air liurnya.

Pemilik kedai yang melihat Anita berdiri cukup lama di dekat
kedainya menegur, membuyarkan lamunannya,
“Mbak, mau pesan bakmi?”
“Ya, Bu, tapi saya nggak bawa uang…” Anita menjawab kecut.
“Nggak apa-apa. Udah, masuk aja, Mbak. Buat Mbak, gratis...” ujar
pemilik kedai.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi kepada Anita. Ia pun segera memakannya beberapa suap, sebelum air matanya mulai berlinang. “Lho, kok nangis, Mbak?” tanya pemilik kedai. “Nggak apa-apa, Bu. Saya cuma terharu,”
Anita mengusap air matanya. “Ibu baik sekali. Nggak kenal saya, tapi mau memberi saya semangkuk bakmi. Nggak kayak ibu saya.
Setelah bertengkar dengan saya, dia nggak mau peduli dengan keadaan saya.”

Mendengar penuturan Anita, pemilik kedai itu menarik napas panjang. “Mbak ini aneh,” ujarnya, “kenapa kok sampai mikir gitu? Saya cuma ngasih semangkuk bakmi aja Mbak udah terharu, sampai nangis segala. Bukankah ibu Mbak sudah memasakkan nasi, sayur, dan lauk-pauk sejak Mbak kecil, sudahkah Mbak
berterima kasih kepadanya? Kenapa Mbak malah bertengkar dan kabur dari rumah?”

Anita terhenyak mendengar kata-kata pemilik kedai. “Kenapa aku nggak pernah berpikir sejauh itu? bisiknya dalam hati. Ia pun segera
menghabiskan bakminya, lalu menguatkan hati untuk pulang. Sepanjang jalan, ia memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada ibunya sebagai permintaan maaf.

Begitu sampai di dekat rumah, ia melihat ibunya sedang terduduk di kursi kayu di depan rumah. Wajahnya letih dan cemas. Begitu melihat Anita, sang ibu menarik napas panjang dan berkata, “Dari mana? Ibu sudah menunggumu dari tadi. Cepatlah masuk, sudah Ibu siapkan makan malam untukmu.” Anita menurut. Di meja makan, air matanya kembali berlinang.

No comments:

Post a Comment